Kamis, 24 November 2011

FISIOGRAFI 5 PULAU BESAR DI INDONESIA


FISIOGRAFI PULAU IRIAN JAYA

1. Kondisi Fisiografi
Dalam mengkaji kondisi geologi Irian, ada beberapa subpokok bahasan yang meliputi kondisi tektonik setting daerah irian, mendala srtruktur dan stratigrafi batuan yang ada di pulau Irian. Berikut ini adalah gambaran umum mengenai lempeng –lempeng yang mendasari benua dan lautan yang ada di dunia dan salah satunya adalah irian jaya.


Berikut ini jabaran terperinci mengenai kondisi geologi Irian:
a. Tektonik Setting Pulau Irian
Geologi di wilayah ini sangat kompleks karena kawasan ini terbentuk dari dua interaksi lempeng yaitu lempeng Australia dan lempeng pasifik sehingga menghasilkan bentukan yang khas. Dan periode pembentukannya lebih dikenal dengan Orogenesa Melanesia. Orogenesa ini mengakibatkan pola struktur irian jaya menjadi sangat rumit dan khas. Secara keseluruhan unsur ini diakibatkan oleh gaya pemampatan berarah barat daya-timur laut, searah dengan tumbukan Dow, drr (1984).
Ada dua bagian kerak utama yang terlibat di Irian Jaya yaitu kraton australia dan kerak pasifik. Yang pertama adalah mantap dan menjadi dasar bagian selatan, sedangkan yang kedua merupakan alas pantai utara (termasuk teluk cendarwasih, dow, drr, 1982)(gb.1). daerah badan burung merupakan jalur memanjang dari timur ke barat yang telah mengalami pelipatan. Jalur ini disebut sesar naik pegunungan tengah (JSNPT).
Awal Miosen merupakan masa orogenesa Melanesia. Pada masa itu proses tektonik di daerah ini mulai terpacu sehingga menghasilkan kedudukan tumbukan yang kearah barat daya yang lebih intensif. Pertumbukan di kedua mendala tersebut mengakibatkan mendala JSNPT membengkok dan berhenti di daerah leher burung. (jalur lipatan lengguru)(gb 1, daerah 2). Bersamaan dengan ini terbentuklah kepala burung yang khas itu (gb. 1, daerah 1). Bagian yang sangat menonjol dari tatan tektonik ini adalah sistem sesar mendatar (transform fault) mengiri yaitu sesar sorong-yapen, terutama segmen lateral yang melibatkan ratusan kilometer batuan yang terseret.

B. Stratigrafi Irian Jaya
Geologi Irian Jaya secara garis besar dibedakan ke dalam tiga kelompok batuan penyusan utama yaitu: (a) batuan kraton Australia; (b) batuan lempeng pasifik; dan (c) batuan campuran dari kedua lempeng (gb.1 ,daerah 3). Litologi yang terakhir ini batuan bentukan dari orogenesa Melanesia. Batuan yang berasal dari kraton Australia terutama tersusun oleh batuan alas, batuan malihan berderajat rendah dan tinggi sebagian telah diintrusi oleh batuan granit di sebelah barat, batuan ini berumur palaezoikum akhir, secara selaras ditindih oleh sedimen paparan mesozoikum dan batuan sedimen yang lebih muda , batuan vulkanik dan batuan malihan hingga tersier akhir. (dow, drr,1985). Singkapan yang baik dan menerus dapat diamati sepanjang daerah batas tepi. Utara dan pegunungan tengah.

Gb.1 Struktur Geologi Irian yang rumit dan khas sehingga menghasilkan bentuk menyerupai kepala burung.
Batuan lempeng pasifik umumnya lebih muda dan tersusun terutama oleh batuan ultrabasa, tuf berbutir halus dan batuan sedimen laut dalam yang diduga berumur jura batuan mesozoikum lainnya yang berasal dari kerak samudera seperti batuan ultramafik (kompleks ofiolit) dan batuan plutonik berkomposisi mafik. Kelompok batuan ini tersungkupkan dan terakrasikan di atas kerak kontinen Australia karena bertumbukan dengan lempeng pasifik. Keadaan ini membentuk pola pegunungan kasar di daerah pegunungan tengah bagian utara. Jalur ofiolit membantang kearah timur barat sejauh 400 km dan lebih dari 50 km lebar (dow dan sukamto,1984, lihat stratigrafi. Gb.2).


Gb.3 Stratigrafi Batuan Irian Jaya Berdasarkan Pembagian Lempeng

Gb.4 Persebaran Batuan di Irian Jaya
C. Mendala struktur daerah irian jaya
Irian jaya bagian timur
Jalur Sesar Naik New Guinea (JSNNG)
(JSNNG) merupakan jalur lasak irian (jalasir) yang sangat luas, terutama di daerah tengah-selatan badan burung. Jalur ini melintasi seluruh zona yang ada di daerah sebelah timur New Guinea yang menerus kearah barat dan dikenal sebagai jalur sesar naik pegunungan tengah (JSNPT). Zona JSNNG-JSNPT merupakan zona interaksi antara lempeng Australia dan pasifik. Lebih dari setengah bagian selatan New guinea ini dialasi oleh batuan yang tak terdeformasikan dari kerak benua. Zone JSNPT, di utara dibatasi oleh sesar yapen, sesar sungkup mamberamo. Batas tepi barat oleh sesar benawi torricelli dan di selatan oleh sesar naik foreland. Sesar terakhir yang membatasi JSSNG ini diduga aktif sebelum orogen melanesia.
Jalur sesar naik pegunungan tengah (JSNPT)
JSNPT merupakan jalur sesar sungkup yang berarah timur-barat dengan panjang 100 km, menempati daerah pegunungan tengah Irian Jaya. Batuannnya dicirikan oleh kerak benua yang terdeformasikan sangat kuat. Sesar sungkup telah menyeret batuan alas yang berumur perm, batuan penutup berumur mesozoikum dan batuan sedimen laut dangkal yang berumur tersier awal ke arah selatan. Di beberapa tempat kelompok batuan ini terlipat kuat. Satuan litologi yang paling dominan di JSNPT ialah batu gamping new guinea dengan ketebalan mencapai 2000 m.
Sesar sungkup JSNPT dihasilkan oleh gaya pemampatan yang sangat intensif dan kuat dengan komponen utama berasal dari arah utara. Gaya ini juga menghasilkan beberapa jenis antiklin dengan kemiringan curam bahkan sampai mengalami pembalikan (overtuning). Proses ini juga menghasilkan sesar balik yang bersudut lebar (reserve fault). Penebalan batuan kerak yang diduga terbentuk pada awal pliosen ini memodifikasi bentuk daerah JSNPT. Periode ini juga menandai kerak yang bergerak ke arah utara.membentuk sesar sungkup. Mamberamo (the mamberamo thrust belt) dan mengawali alih tempat gautier (the gautier offset).
Jalur sesar naik mamberamo
Jalur sesar ini memanjang 100 km ke arah selatan dan terdiri dari sesar anak dan sesar geser (shear) sehingga menyesarkan batuan plioesten formasi mamberamo dan batuan kerak pasifik yang ada di bawahnya. (gb. 3). William, drr (1984) mengenali daerah luas dengan pola struktur tak teratur. Di sepanjang jalur sesar sungkup dijumpai intrusi poton-poton batuan serpih (shale diapirs) dengan radius seluas 50 km, hal ini menandakan zona lemah (sesar). Poton-poton lumpur ini biasanya mempunyai garis tengah beberapa kilometer, umumnya terdiri dari lempung terkersikkan dan komponen batuan tak terpilahkan dengan besar ukuran fragmen beberapa milimeter hingga ratusan meter. Sekarang poton lumpur ini masih aktif dan membentuk teras-teras sungai.
Irian jaya barat
Zona sesar sorong

Perederan beberapa ratus kilometer dari zona sesar Sorong-Yapen pertama kali dikenal oleh Visser Hermes (1962). Adalah sesar mengiri dan berlangsung sejak Miosen Tengah. Kejadian ini didukung oleh bergesernya anggota batu serpih formasi Tamrau berumur Jura-Kapur yang telah terseret sejauh 260 km dari tempat semula yang ada disebelah timurnya (lihat pergeseran sesar Wandamen dibagian Timur) dan hadirnya blok batuan vulkanik alih tempat (allochtonous) yang berumur Miosen Tengah sejauh 140 km di daerah batas barat laut Pulau Salawati (Visser & Hermes, 1962)

Zona Sesar Wandamen
Sesar Wandamen (Dow,1984) merupakan kelanjutan dari belokan Sesar Ransiki ke Utara dan membentuk batas tepi timur laut daerah kepala burung memanjang ke Barat daya pantai sasera, dan dari zona kompleks sesar yang sajajar dengan leher burung. Geologi daerah Zona Sesar Wandamen terdiri dari batuan alas berumur Paleozoikum Awal, batuan penutup paparan dan batuan sediment yang berasal dari lereng benua. Kelompok ini dipisahkan oleh zona dislokasi dengan lebar sampai ratusan kilometer, terdiri dari sesar-sesar sangat curam dan zona perlipatan isoklinal.
Perubahan zona arah sesar Wandamen dari Tenggara ke Timur di tandai bergabungnya sesar-sesar tersebut dengan sesar Sungkup Weyland. Timbulnya alih tempat (allochtonous) yang tidak luas tersusun oleh batuan sedimen mezozoic. Diatas satuan ini diendapkan kelompok batu gamping New Guenia. Jalur sesar Wandamen dan Sesar Sungkup lainya di zona ini merupakan bagian dari barat laut JSNPT.
Jalur Lipatan Lengguru (Lengguru Fold Belt)
Jalur Lipatan lengguru (JLL) adalah merupakan daerah bertopografi relative rendah jarang yang mencapai ketinggian 1000 m di atas muka laut. Daerah ini dicirikan oleh pegunungan dengan jurus yang memenjang hingga mencapai 50 km, batuanya tersusun oleh batu gamping New Guenia yang resistan. Jalur lipatan ini menempati daerah segitiga leher burung dengan panjang 3000 km dan lebar 100 km dibagian paling selatan dan lebar 30 km dibagian utara. Termasuk di daerah ini adalah batuan paparan sediment klastik Mesozoikum yang secara selaras ditindih oleh batu gamping New Guenia (Kapur awal miosen). Batuan penutup ini telah mengalami penutupan dan tersesar kuat. Pengerutan atau lebih dikenal dengan thin skin deformation berarah barat laut dan hampir searah dengan posisi leher burung. Intensitas perlipatan tersebut cenderung melemah kea rah utara zona perlipatan dan meningkat kearah timur laut yang berbatasan dengan zona Sesar Wandemen (Dow, drr.,1984)
JLL adalah thin slab kerak benua yang telah tersungkup-sungkup kan kearah barat daya diatas kerak benua Kepala Burung (Subduksi menyusut = oblique subduction). Jalur ini telah mengalami rotasi searah jarum jam (antara 75-80). Porsi bagian tengah dari JLL ini terlipat kuat sehingga menimbulkan pengerutan. Dow drr (1985) menyarankan pengkerutan kerak (crustal shortening) ini sebesar 40-60 km. diperkirakan proses pemendekan tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Jalur JLL di sebelah timur dibatasi oleh Sesar Wandamen di selatan oleh sesar Tarera Aiduna dan dibagian barat oleh sesaar aguni. Hal ini dapat menutup kemungkinan bahwa jalur JLL merupakan perangkap hidrokarbon jenis struktur yang melibatkan batuan alas akibat gaya berat memampat.


D. Geomorfologi Irian Jaya
Secara astronomis, irian terletak antara 00 19’ – 100 43’ LS dan 1300 45’ 1500 48’ BT, mempunyai panjang 2400 km dan lebar 660 km. secara administratif pulau ini terdiri dari papua sebagai wilayah RI dan papua Nugini yang terlatak di bagian timur. Fisiografi papua dibedakan menjadi tiga bagian:
1. Semenanjung barat atau kepala burung yang dihubungkan oleh leher yang sempit terhadap pulau utama (1300 – 1350 BT)
2. Pulau utama atau tubuh (1350 – 143,50 BT)
3. Bagian timur termasuk ekor (143,50 – 1510 BT)
Di sebelah utara papua terdapat bagian Samudra Pasifik yang dalamnya 4000m, dibatasi oleh kepulauan Carolina di sebelah utara. Pulau-pulau karang yang muncul terjal dari dasar samudra itu (Mapia di sebelah utara Manokwari) menunjukkan bahwa bagian samudra ini merupakan block kontinen yang tenggelam. Block kontinen yang tenggelam di sebelah utara Papua ini dianggap sebagai tanah batas “Melanesia”. Kearah selatan, Dangkalan Sahul (laut Arafura) dan selat torres menghubungkan Papua dengan Australia.
1. Kepala burung dan Leher
Sejajar dengan pantai utara Kepala burung terjadi rangkaian pegunungan yang membujur timur-barat antara Salawati dan Manokwari. Ini terbagi oleh utara dan selatan oleh sebuah depresi memanjang. Rangkaian utara tersusun dari batuan volkanis neogen dan kuarter yang diduga masih aktif atau volkan Umsini pada tingkat solfatar. Rangkaian selatan terdiri dari sediment tertier bawah dan per-tertier yang terlipat kuat. Arahnya timur-barat, kemudian melengkung ke selatan sampai pegunungan lima. Bagian utara kepala burung dipisahkan terhadap bagian selatan (Bombarai) oleh teluk Macculer yang luas tetapi dangkal, karena sedimentasi yang besar dan di tandai dangkalan yang berisi pulau-pulau, parit-parit, dan bukit-bukit yang terpisah-pisah.
2. Batang atau Daratan Utama
Bagian utara pulau ini menunjukkan zone-zone yang arahnya barat laut-tenggara yang sejajar atau sama lain. Selanjutnya berupa zone memanjang dari tanah rendah dan bukit-bukit, yaitu depresi memberamo-bewani yang sebagian jalin-menjalin dengan jalaur pantai utara daratan utama. Depresi tersebut membujur dari pantai timur teluk geelvink di sepanjang danau rambebai dan sentani sampai ke pantai finch dengan aitape. Disebelah selatan depresi ini terdapat rangkaian pegunungan kompleks yang disebut rangkaiana pembagi utara. Rangkaian pembagi utara ini merupakan deretan pegunungan dan pegunungan antara teluk geelvink di bagian barat dan muara sungai sepik di bagian timur. Dibagian barat terdapat puncak dom (1340 m), ke arah timur pegunungan van rees, yang secara melintang terpotong oleh sungai mamberamo, yang di ikiuti oleh pegunungan gauttier (>1000 m), pegunungan poya, karamoor, dan bongo. Di sebelah selatan pegunungan Cyclops terdapat sebuah sumbu depresi.
3. Bagian timur (“ekor”) Papua
Mulai 143,50 BT garis-garis arah umum fisiografinya menjadi barat laut-tenggara. Bagian timur menujukkan beberapa bentang alam yang berbeda dengan daratan utama. Di antara rangkaian timur laut dan rangkaian tengah, terbentang sebuah depresi, ditandai oleh lembah-lembah Ramu dan Markham. Ke arah timur zone ini melintas sampai teluk Huon. Rangkaian tengah, dimana rangkaian victoe emanuel merupakan bagian yang relatif sempit dari sistem pegunungan lengan papua. Perbedaan antara rangkaian tengah di bagian barat daratan utama pada satu pihak dan bagian timur serta ekor di pihak lain adalah dibentuk oleh perluasan volkanisme tertier dan kuarter di bagian timur tersebut. Pada tepi utara geantiklinal terdapat unsur volkan lain, seperti gunung lamington, Trafalgar, victory goropu, dan gunung dayman. Jalur volkanis membujur ini membujur sejajar sampai ke ujung tenggara ekor papua. Jalur tersebut merupakan zone dalam yang volkanis dari sistem orogen, sedangkan zone luar yang tidak volkanis merupakan pulau-pulau trobriand dan eoodlark, terletak sampai di sebelah utaranya.




E. Pengembangan Wilayah Irian Jaya
Provinsi Papua memiliki kondisi topografi yang sangat bervariasi dari daerah datar hingga daerah sangat curam. Sebagian besar wilayah Papua termasuk daerah datar dengan kisaran kemiringan lahan 0 - 8% mencapai luasan ± 16,3 juta hektar (38,6%) dan diikuti dengan kemiringan lahan 15 – 25% seluas ± 15,0 juta hektar (35,5%). Sedangkan 5,9% dari luas wilayah Papua adalah daerah agak curam.
Wilayah yang didominasi daerah datar antara lain adalah Kabupaten Merauke dan Kabupaten Mimika. Wilayah tersebut cukup cocok untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan, serta penggunaan lahan lainnya yang memerlukan persyaratan topografi datar. Sedangkan daerah pegunungan terutama didominasi oleh Kabupaten Jayawijaya, kemudian Kabupaten Jayapura, Nabire, Paniai dan Kabupaten Puncak Jaya. Daerah dengan topografi curam hinggan sangat curam ini akan berdampak pada alokasi penggunaan lahan, dimana kondisi tersebut tidak cocok dimanfaatkan untuk budidaya pertanian.


Gb.7 kondisi fisiografi pulau papua untuk pengembangan wilayah
Papua merupakan pulau yang kaya akan hutan, luas lahannya sebagian besar wilayanhnya merupakan hutan yang belum dimanfaatkan secara optimal, potensi yang dapat dikembangkan di daerah ini meliputi berbagai kegiatan seperti kehutanan, pengembangan perkebunan, peternakan, perikanan darat dan laut, dan pertambangan. Potensi sumbar daya mineral dan energi di papua antara lain:manyak bumi, emas, tembaga, batubara, dan sejumlah mineral lainnya. Papua menjadi pengeksport konsentrat terbesar. Salah satu perusahaan yang terkenal adalah PT. Freeport di kabupaten Tinamika.
Kawasan Teluk Cendrawasih
Teluk Cendrawasih merupakan kawasan andalan dikarenakan letaknya yang strategis, infrastruktur yang memadai, dan potensi SDA yang kaya serta merupakan pintu gerbang sebelah timur Indonesia. Perlu diketahui sebelumnya bahwa terdapat dua pusat pertumbuhan di pulau ini. Yang mana keduanya terpisah oleh pegunungan Jayawijaya. Kedua pusat tersebut adalah Biak di sebelah Utara sebagai inti kawasan andalan Teluk Cendrawasih, dan Tinamika di sebelah Selatan sebagai pusat pertumbuhannya.
Kabupaten Biak Numfor dicanangkan sebagai pusat pertumbuhan untuk sector industri dan pariwisata. Kabupaten ini memiliki potensi wisata yang beragam, pusat wisata alam (habitat flora dan fauna) khususnya keindahan laut, taman laut insubabi, cagar alam pulau Supiori dan pulau Numfort serta air panas di sunber air biru. Untuk sector industri di wilayah ini, direncanakan pengembangan kawasan industri atau Eksport Processing Zone (ERZ) yang study kelayakannya sudah rampung.
Sektor kehutanan yang terletak di Kabupaten Yapen Waropen berkembang dengan baik karena hutannya masih luas sekitar 1.950.500 ha terdapat hutan produksi terbatas seluas 264.493 ha, dan hutan konversi 522.310 ha. Sisanya berupa hutan lindung seluas 503.343 ha, hutan PPA 65000 han dan huta lainhhya 7.806 ha.
Kabupaten Manokwari memilii enam cagar alam dan tiga swaka margasatwa. Selain potensi walayah tersebut terdapat sector pertambangan, kehutanan, dan pertanian (tanaman pangan dan perkebunan). Potensi pertambangan yang menonjol adalah minyak bumi di Bintuni; uranium dan granit di Anggi dan Ransiki; mika di Wasior; dan timah putih di Rasinki.
Pengembangan wilayah di Papua juga dapat ditinjau dari beberapa faktor diantaranya:
a. Faktor Sumber Daya Wilayah
Sumberdaya wilayah yang dimaksud adalah sumberdaya lahan yang terkait dengan fisik wilayah. Kiat manajemen atau pengelolaan yang berimbang dan berkelanjutan merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam peningkatan produktivitasnya. Keberhasilan pengelolaan dengan berpijak pada kaidah kelestarian lingkungan dan berkelanjutan akan dapat menjamin terhadap meningkatnya masukan daerah yang telah lama dieksploitasi dengan tanpa mempertimbangkan kelestarian secara optimal. Sebagaimana diketahui bersama bahwa keaaan daerah saat ini telah mengalani banyak perubahan sebagai akibat kurangnya pelibatan dan pemberdayaan masayarakat dalam melakukan pengambangan di wilayah yang bersangkutan, sehingga dalam mengantisipasi terhadap pengaruh negative berkepanjangan maka perlu segera diupayakan adanya sinkronisasi dan peningkatan hubungan koordinasi dan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat, serta daerah dan pusat dalam rangka peningkatan potensi di wilayah yang bersangkutan.
b. Faktor Sumberdaya Manusia
Manusia adalah kunci keberhasilan pembangunan. Sumberdaya manusia merupakan kunci sukses dalam setiap pelaksanaan pembangunan baik dalam skala kecil, menengah, maupun sedang. Dalam rangka peningkatan keberhasilan pelaksanaan pembangunan tersebut maka diperlukan kualitas sumberdaya manusia yang memadai. Peningkat kualitas yang dibarengi oleh peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang berkualitas di tingkat regional untuk masa-masa sekarang dan yang akan datang perlu dilakukan dan perlu memperoleh perhatian yang serius dalan penanganannya sehingga potensinya dapat dimanfaatkan secara baik dan benar.
Pembangunan regional bukanlah membangun fisik daerah semata-mata melainkan inti pembangunan daerah adalah membangun sumberdaya manusia. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya, aspek pemberdayaan masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang serius. Dalam rangka ini pula, diwajibkan kepada daerah untuk mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi pengembangan suberdaya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu memberikan dukungan terhadap dilaksanakannya paradigma pembangunan berkelanjutan dan mampu membangun daerah berdasarkan aspirasi daerah yang bersangkutan.

c. Faktor Kedudukan Geografis
Letak wilayah secara geografis memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan wilayah baik dari segi ekonomi, budaya, social, politik dan fiskal . letak geoarafis memiliki pengaruh pula terhadap letak strategis wilayah dalam berbagai aspek kehidupan. Kedudukan strategis wilayah yang bersangkutan dan dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pasar produksi pembangunan baik sektoral, maupun nonsektoral dan bahkan mungkin dapat menjadi salah satu produsen handal yang mampu memasok terhadap daerah lain disekitarnya, dengan demikian kedudukan geografi memiliki peran yang penting dan dapat menjadi faktor pengaruh yang kuat terhadap perkembangan wilayah yang bersangkutan dan sekitarnya.
Di samping itu, dengan letak geografi tersebut dapat dijadikan sebagai dasar setting terhadap kegiatan yang prospektif di masa depan termasuk penentuan pola konservasi dan preservasi serta pola eksploitasinya.



Di p

















FISIOGRAFI PULAU KALIMANTAN

Secara geologis, Kalimantan terbagi dua yaitu: Bagian Tanah Sunda dan Bagian Sistem Peg. Sirkum Sunda Termasuk tanah Sunda: bentangan segi tiga tanjung Datuk-Tanjung sambar-Peg Muller- Dataran Tinggi Madi-Kompleks Niyut. Di sisi barat laut tanah sunda ini adalah Peg. lipatan tua (1000-2000 m) yakni Peg. Kapuas dan Peg. Iban. Sisi timur, tertimbun oleh ribuan meter endapan dan muncul lagi sebagai P. laut dan P. Sebuku Bagian Filipina adalah Peg. Kinibalu dan Peg. di kedua sisi teluk Darvel. Batas selatannya adalah jalur basin Sulawesi ke labuan di Sabah. Tiga sungai besar di Kalimantan: S. Kapuas (1.143 km terpanjang di Indonesia) berhulu di G. Cemaru.Hulunya adalah Semitau dan Putissibau. S. Barito (900 km) berhulu di Peg. Muller dan mengalir melalui Muara Teweh ke basin Barito dan bermuara ke Laut Jawa. SisiTimur basin Barito adalah Peg. Meratus. S. Mahakam (775 km) berhulu di G. Cemaru. Mengalir melintasi Batuayan (1.652 m), kemudian memasuki basin kutai yang penuh danau


Luas ± 736.000 km² adalah pulau terbesar di Asia Tenggara. Ada 3 negara yang memiliki Indonesia (di selatan) dan Malaysia dan Brunei (di utara). Sebagian besar tingginya < 1500 m. Pegunungan utamanya dari peg. Kinibalu (Malaysia) di timur laut-Peg. Iban (batas Indonesia-Malaysia)- Peg Muller dan Peg. Schwaner (di barat daya) Dari pegunungan utamanya, bercabang: ke barat: peg. Kapuas Hulu dan Kapuas Hilir. Ke timur: semenanjung Mangkalihat dan ranting² lain di Kal Tim yang merupakan hulu sungai Mahakam, Berau, Kayan dan Sesayap. Ke tenggara dan selatan: berupa Peg. Meratus (G. Besar: 1.892 m)
Iklim di pulau Kalimantan adalah iklim hujan tropis iklim ini memiliki delapan bulan basa dan tidak memiliki bulan kering yang nyata. Jumlah hujan pada bulan kering lebih dari 60mm(kelas AF). Sedangkan berdasarkan system Schmidt and Ferguson
FISIOGRAFI PULAU SULAWESI
  • Tinjauan Geologi Regional
Geologi regional Tana Toraja termasuk pada lembar Majene dan bagian barat lembar Palopo (Djuri, Sudjatmiko, S. Bachri dan Sukido, 1998 ).
a) Fisiografi
Pulau Sulawesi dapat dibagi menjadi tiga mandala yaitu Mandala Geologi Sulawesi Bagian Barat, Mandala Sulawesi Bagian Timur, Mandala Banggai-Sula. Tetapi untuk Mandala barat dan Timur ada ketidaksesuaian dari selatan-utara selama zaman Tersier. Daerah telitian merupakan bagian dari Mandala Sulawesi Bagian Barat ( R.A.B. Sukamto, 1973 ).
Mandala Barat Sulawesi dibatasi oleh Mandala timurnya oleh adanya jalur sesar yang arah sesarnya adalah utara-selatan. Dibagian baratnya, Mandala Barat Sulawesi ini dibatasi oleh terjadinya rifting karena adanya penipisan kerak benua yang kemudian mengakibatkan sistem blok di Selat Makassar. Terbukanya Selat Makassar ini oleh rifting yang terjadi pada Miosen Awal dan sedikit banyaknya mempengaruhi struktur geologi di Mandala Barat Sulawesi.
Secara umum pada mandala ini didapatkan adanya sesar-sesar mendatar yang umumnya mempunyai arah pergerakan kekiri dan sesar-sesar naik. Arah sesar mendatar mempunyai arah jurus kurang lebih N160ºE atau N340ºE dengan arah pergerakan mengiri (sinistral). Sedangkan untuk sesar naik umumnya terdapat di melange Bantimala dengan arah barat laut-tenggara yang mampu mengangkat komplek Melange ini kepermukaan diberbagai tempat.
Pada bagian Tengah di Mandala Barat didapatkan juga adanya suatu terban yang memanjang utara-selatan yang disebut terban Walanae. Terban ini dibatasi oleh dua sesar normal yang berarah utara-selatan, kemudian terban ini terisi oleh sedimen vulkanik Kuarter. Terjadinya Terban ini mungkin akibat penipisan kerak benua yang kemudian berkembang menjadi suatu sistem sesar blok seperti halnya Selat Makassar hanya dalam hal ini dimensinya kecil.

b) Struktur Geologi dan tektonika
Sulawesi terdiri dari 4 bagian pulau-pulau, yaitu yang dikenal sebagai lengan, tubuh, leher, dimana dikelilingi oleh teluk yang menjorok kedalam. Terletak pada wilayah tektonik yang sangat kompleks dimana tiga lempeng utama saling berinteraksi dari zaman Mesozoikum sampai sekarang. Wilayah ini telah dibagi menjadi 4 bagian Lithotektonik, yang terhubung oleh skala besar tektonik yang berbeda-beda tempat dan sesar naik (R.A.B. Sukamto, 1975). Terjadi dari barat hingga ke timur.Busur Plutono-Vulkanik Sulawesi Barat yang dijelaskan diatas dapat dibagi menjadi segmen Continental Margin (Sulawesi Barat) dan Busur Kepulauan Tersier yang didasari oleh Oceanic Crust (Sulawesi Utara). Sabuk Metamorfik Sulawesi Tengah batuan metamorfnya terdiri dari material asal benua dan samudera, mungkin termasuk kerak Australia. (Hall, 2002). Ofiolit Sulawesi Timur, secara tektonik terhubung oleh sediment laut dalam yang berumur Mesozoikum, dan mungkin termasuk Mid Oceanic Ridge Samudera Hindia, Tepi Cekungan, dan bagian dari busur depan Sundaland (Hall, 2002).
Fragmen kontinen yang berasal dari Australia (Buton-Tukang dan Besi-Banggai-Sula) dimana bertumbukan dengan bagian timur Sulawesi selama Awal Miosen-Pliosen (Hall, 2002).  Katili. J.A, (1977) mengatakan bahwa sekarang Selat Makassar sepanjang selat Pasternoster akibat mekarnya lantai dasar laut Palung Makassar yang menyebabkan pula terjadinya zona subduksi kecil yang menunjam ke arah timur dan mempengaruhi aktivitas gunungapi Kuarter Akhir.
Secara umum pada mandala geologi bagian barat ini didapatkan adanya sesar – sesar mendatar yang pada umumnya memiliki arah sesar pergerakannya kekiri disertai beberapa sesar naik. Sesar mendatarnya kurang lebih memiliki arah jurus N 160o E dan N 340o E dengan arah pergerakan ke kiri (Sinister). Sedangkan untuk sesar naiknya umumnya didapatkan didaerah Bantimala Complex yang mampu mengangkat kelompok mélange ini muncul ke permukaan di beberapa tempat.Pola tektonik regional di Sulawesi tergambar dalam bentuk sesar-sesar geser jurus dan sesar-sesar sungkupnya. Jalur sesar Palu-Koro merupakan sesar geser jurus sinistral yang mempunyai arah barat laut-tenggara yang diperkirakan masih aktif sampai sekarang.

  1. 1. Karakteristik Pulau Sulawesi
Pulau Sulawesi mempunyai bentuk yang berbeda dengan pulau lainnya. Apabila melihat busur-busur disekelilinya Benua Asia, maka bagian concaxnya mengarah ke Asia tetapi Pulau Sulawesi memiliki bentuk yang justru convaxnya yang menghadap ke Asia dan terbuka ke arah Pasifik, oleh karena itu Pola Sulawesi sering disebut berpola terbalik atau inverted arc.
Pulau Sulawesi terletak pada zone peralihan antara Dangkalan Sunda dan dangkalan Sahul dan dikelilingi oleh laut yang dalam. Dibagian utara dibatasi oleh Basin Sulawesi ( 5000 – 5500 m ). Di bagian Timur dan Tenggara di batasi oleh laut Banda utara dan Laut Banda Selatan dengan kedalaman mencapai 4500 – 5000 m. Sedangkan untuk bagian Barat dibatasi oleh Palung Makasar (2000-2500m).
Sebagian besar daerahnya terdiri dari pegunungan dan tataran rendah yang terdapat secara sporadik, terutama terdapat disepanjang pantai. Dataran rendah yang relatif lebar dan padat penduduknya adalah dibagian lengan Selatan. Berdasarkan orogenesenya dapat dibagi ke dalam tiga daeran (Van Bemmelen, 1949) sebagai berikut :
  1. Orogenese di bagian Sulawesi Utara
  2. Orogenese di bagian Sulawesi Sentral
  3. Orogenese di bagian Sulawesi Selatan
  1. A. Orogenese di bagian Sulawesi Utara\]
Meliputi lengan Utara Sulawesi yang memanjang dari kepulauan Talaud sampai ke Teluk Palu – Parigi. Daerah ini merupakan kelanjutan ke arah Selatan dari Samar Arc. Termasuk pada daerah ini adalah Kepulauan Togian, yang secara geomorfologis dikatakan sebagai igir Togian (Tigian Ridge). Daerah orogenese ini sebagain termasuk pada inner arc, kecuali kepulauan Talaud sebagai Outer Arc.


  1. B. Orogenese di bagian Sulawesi Sentral
Dibagian sentral ini terdapat tiga struktur yang menjalur Utara – Selatan sebagai berikut :
  1. Jalur Timue disebut Zone Kolonodale
  2. Jalur Tengah disebut Zone Poso
  3. Jalur Barat disebut Zone Palu

Jalur Timur terdiri atas lengan timur dan sebagian yang nantinya bersambung dengan lengan Tenggara. Sebagai batasnya adalah garis dari Malili – Teluk Tomori. Daerah ini oleh singkapan-singkapan batuan beku ultra basis.
Jalur Tengah atau Zone Poso, batas Barat jalur ini adalah Medianline. Zona ini merupakan Graben yang memisahkan antara Zona Barat dan Timur.Dibagian Utara Zone ini terdapat Ledok Tomini dan di Selatannya terdapat Ledok Bone. Daerah ini ditandai oleh mayoritas batuan Epi sampai Mesometamorfik crystalline schist yang kaya akan muscovite.
Jalur Barat atau Zona Palu, ditandai oleh terdapat banyaknya batuan grano – diorite, crystalline schist yang kaya akan biotite dan umumnya banyak ditemui juga endapan pantai. Zona ini dibagian Utara dibatasi oleh Teluk Palu – Parigi, di Selatan dibatasi garis dari Teluk Mandar – Palopo. Dari Teluk Mandar – Palopo ke arah selatan sudah termasuk lengan Selatan – Sulawesi. Daerah jalur Barat ini merupakan perangkaian antara lengan Utara Zone Palu dan lengan selatan merupakan satuan sebagain Inner Arc.
  1. Orogenese di bagian Sulawesi Selatan
Secara garis besar tangan selatan Sulawesi merupakan kelanjutan Zone Palu (Zone bagian barat Sulawesi Tengah) dan tangan tenggara merupakan kelanjutan dari tangan Timur Sulawesi (Zone Kolonodale). Secara Stratigrafi antara lengan selatan dan lengan tenggara banyak memiliki kesamaan, begitu juga antara Zone Palu Lengan Utara dengan Zone Kolonodale Lengan Timur dilain fihak. Walaupun demikian diantaranya terdapat perbedaan-perbedaan sebagai contoh bagian ujung selatan (di Selatan D. Tempe) banyak
  1. 2. Geologi sulawesi
Secara geologi, sulawesi merupakan wilayah yang geologinya sangat komplek, karena merupakan perpaduan antara dua rangkaian orogen ( Busur kepulauan Asia timur dan system pegunungan sunda ).Sehingga, hampir seluruhnya terdiri dari pegunungan, sehingga merupakan daerah paling berpegunungan di antara pulau- pulau besar di Indonesia (Sutardji, 2006 :100) Secara rinci fisiografi sulawesi adalah sebagai berikut :

  1. Lengan Utara Sulawesi
Pada lengan ini, fisiograsinya terbagi menjadi tiga bagian berdasarkan aspek geologinya. Ketiga bagian tersebut adalah :
  1. Seksi Minahara, merupakan ujung timur dari lengan utarasulawesi dengan arah timur laut barat daya yang bersambung dengan penggungan sangihe yang didirikan oleh aktifitas vulkanis pegunungan soputan.
  2. Seksi gorontalo merupakan bagian tengah dari lengan utara sulawesi dengan arah timur ke bawah, namun aktifitas vulkanis sudah padam yang lebar daratanya sekitar 35 – 110 km, tapi bagian baratnya menyempit 30 km ( antara teluk dondo dipantai utara dan tihombo di pantai selatan ). Seksi ini dilintasi oleh sebuah depresi menengah yang memanjang yaitu sebuah jalur antara rangkaian pegunungan di pantai utara dan pegunungan di pantai selatan yang disebut zone limboto :
  3. Jenjang sulawesi utara, merupakan lengan utara sulawesi yang arahnya dari utara ke selatan dan terdapat depresi ( lanjutan zone limboto di gorontalo ) yang sebagian besar di tutup oleh vulkan – vulkan muda, sedangkan antara lengan utara dan lengan timur di pisahkan oleh teluk tomini yang lebarnya 100 km di bagian timur dan sampai 200 km di bagian barat sedangkan dasar teluknya semakin dangkal kea rah barat ( ( kurang dari 2000 meter ) dan di bagian tengah teluk tomini tersebut terdapat pegunungan di bawah permukaan air laut dengan bagian tinggi berupa kepulauan togian ( Sutardji ; 2006 : 101 )

  1. Lengan Timur
Lengan timur sulawesi arahnya timur laut barat daya dan dapat di bedakan menjadi tiga bagian. Tiga bagian tersebut adalah
  1. Bagian timur, berupa semenanjung Bualeno yang di pisahkan dengan bagian tengah oleh tanah genting antara teluk poh dan teluk besama
  2. Bagian tengah, dibentuk oleh pegunungan Batui dengan pegunungan Batulumpu yang arahnya timurlaut-baratdaya yang berangsur-angsur lenardari 20 km di timur sampai 80 km di utara Bunku.
  3. Bagian barat, merupakan pegunungan tinggi yang membujur antara garis ujng Api sampai Teluk Kolokolo bagian timur dan garis Lemoro sampai teluk Tomini di barat dan lebarnya sekitar 75-100 km ( Sutardji, 2006 : 101 )
  4. Lengan Tenggara
Batas antara lengan tenggara dengan bagian tengah sulawesi adalah berupa tanah gentingantara teluk Usu dengan teluk Tomori yang lebarnya 100 km. Sedangkan lengan tenggara Sulawesi dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu :
  1. Bagian utara, berupa massip-massPeridotit dari pegunungan Verbeek yang di tengahnya terdapat dua graben yaitu danau Matana dan Danau Tomini yang letaknya berada ntara teluk Palopo ( Ujung utara teluk Bone ) dengan Teluk Tolo.
  2. Bagian Tengah, berupa Pegunungan Mekongga di sebelah barat dan sediment peridorit di sebelah timur yang di batasi oleh Pegunuingan Tangeasinua, sedangkan antara kedua pegunungan tersebut terdapat basin yang dialiri sungai Konewha, sedangkan kea rah tenggara jalur ini tenggelam dan membentuk teluk-teluk dan pulau-pulau kecil serta berkelanjutan sampai kepulauan Manui.
  3. Bagian Selatan, merupakan suatu depresi yang membujur dari arah barat ke timur yang membentang antara Kendari dan Kolaka yang diisi dataran Aluvial yang berawa sedangkan di bagian selatannya berupa pegunungan dan bukit-bukit yang teratur dengan membujug barat ke timur.
  4. Lengan Selatan
Bagian sulawesi selatan merupakan daerah yang dibatasi oleh garis enggara-baratlauit dari muara sungai Karama sampai Palopo. Batas lengan utara dari garis timurlaut-barat daya dari palopo sampai teluk Mandar. Namun secara geologis bagian barat lengan sulawesi tengah termasuk Pegunungan Quarles yang lebih dekat hubungnnya dengan bagian selatan dengan lemngan selatan ( Sutardji, 2006 : 103 ).
Fisiografi lengan selatan berupa pegunungan seperti pegunungan yang ada di antara Majene yang membujur utara-selatan, antara pegunungan Quarles dengan pegunungan Latimojong dipisahkan oleh lembah Sadang dan diantara lembah Sadang dan teluk Bone terdapat Pegunungan Latimojong yang membujur dari utara ke selatan dengan ketinggian sekitar 3000 mdpl. Pada bagian utara dan selatan lengan ini dipisahkan oleh depresi dengan arah baratlau-tenggara yang terdapat danau-danau seperti Tempe, Sidenreng, dan danau Buaya. Pada bagu\ian selatannya lengan ini mempunyai ketinggian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan bagian utara. Di daerah ini ada dua jalur pegunungan yaitu di bagian barat dengan ketinggian diatas 1000 mdpl dan bagian timur dengan ketinggian 800 mdpl yang dipisahkan oleh lembah Sungai Walaneia. Kedua jalur pegunungan tersebut di sebelah selatan pegunungan Bontorilni, bersatu sebagai hulu sungai Walaneia yang mengalir ke utara tertutup oleh vulkan besar Lampobatang. Sedangkan di luar pantai Makasar terdapat dangkalan Spermonde dengan rangkaian karang, dan di luar pantai Watampone terdapat dangkalan dengan rangkaian karang, laut dangkal dan sebelah baratnya menurun sampai palung Bone

  1. Sulawesi Tengah
Keempat lengan dari pulau Sulawesi bertemu di bagian tengah. Bagian ini di batasi oelh garis yang melalui Donggala-parigi_Lemore Teluk Tomini dari lengan utara dan timur, garis dari Mojene_palopor Dongi sampai teluk Temori membatasi dengan lengan selatan dan tenggara. Bagian tengah Sulawesi terbagi dalam tiga zona yang memiliki perkembangan Geologi yang berbeda dan mengarah utara-selatan (Sutardji, 2006:104).

Ketiga zona tersebut adalah :
  1. Zona Palu, merupakan busur dalam vulkanis, tetapi telah padam, zona ini bersatu ke utara dengan Sulawesi utara dan selatan dengan Sulawesi selatan Batuan utama seperti grafik.
  2. Zona Poso, emrupakan palung antara yang seperti Grnit dan endapan sediment pantai batuan metamosif dengan endapan konglomerat, batu pasar dan letaknya tidak selaras diatas batuan metamotif.
  3. Zona Kolondale, merupakan busur luar dengan dicirikan oleh batuan ultra basa, batuan segimen yang terdiri dari gamping dan batu api usia mesozaikum (Sutardji, 2006:104).

Berdasarkan geologinya, lengan timur dan tenggara di dominasikan oleh batuan malihan dan afiolit yang terobdaksi pada miosen ke atas. Mandala timur, Benua mini banggai-Sulawesi berasal dariAustralia dan berumur Palezoikum-Mesozoikum (Smith and Silver, 1991 dalam Soemandjuntak, 2004:26). Sedangkan pada lengan selatan di dominasi oleh batuan gunung api dan lengan selatan di dominasik oleh batuan gunung api dan terobosan Miosen lebih muda yang membentuk sabuk lipatan diatas tepi bagian timur daratan sunda (Katili 1978 dalam Soemandjuntak, 2004:26). Pada bagian tengah pulau Sulawesi didominasi batuan yang berasal dari aktivitas volkanik seperti granit. Sedangkan pada lengan utara di dominasi oleh batuan metamorf seperti Sekis Kristalin dan Phelit. Dilihat dari Geologi regional di lengan selatan pulau Sulawesi yang terdapat formasi latimojong yang terdiri atas batuan batu lava, batu pasir termetakan, batuan sabak, filit dan sekis merupakan formasi batuan yang mirip dengan geologi Kalimantan Barat yaitu tepian benua yang terbentuk oleh proses penunjaman. Sehingga diperkirakan Sulawesi dan Kalimantan, dulunya merupakan satu kesatuan daratan lempeng Eurasia.






FISIOGRAFI PULAU JAWA
Sari
 
Wilayah perbukitan pada kawasan Kendeng Utara merupakan kawasan kars yang terbentang luas dari Kabupaten Grobogan di bagian Selatan hingga Kabupaten Pati di bagian Utara Perbukitan Kendeng Utara. Geomorfolgi kawasan kars adalah perbukitan kars struktural dengan morfologi permukaan (eksokars) berupa bukit kerucut yang menjajar (conical hills) dan cekungan-cekungan hasil pelarutan (dolena), sementara geomorfologi bawah permukaan (endokars) berupa adanya sistem gua-gua dan ornamennya serta sungai-sungai yang mengalir di bawah permukaan.
Pola aliran (sistem hidrologi) yang berkembang adalah pola pengaliran paralel yang dikontrol oleh struktur geologi dan proses pelarutan yang ada di kawasan tersebut. Penjajaran mata air kars pada bagian Utara dan Selatan perbukitan kars Sukolilo, muncul pada ketinggian kisaran 5 - 150 mdpl radius 1 - 2  km dari perbukitan kars Sukolilo. Untuk kawasan kars Grobogan, pemunculan mata air kars pada zona Utara berada pada kisaran ketinggian 425 - 450 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada ketinggian antara 300 - 450 mdpl. Mata air dan sistem sungai bawah tanah di kawasan kars Kendeng Utara bersifat parennial.
Kawasan kars Sukolilo dan Grobogan merupakan kawasan penyimpan air bagi seluruh mata air kars yang ada di Pati dan Grobogan, sehingga Pemerintah Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati perlu menetapkan kawasan ini sebagai kawasan kars yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga risiko bencana kekeringan bagi lebih dari 8.000 KK dan 4.000 Ha lahan pertanian di kemudian hari dapat dihindari.

Kata kunci: kars, mata air, eksokars, endokars, conical hill, gua, risiko bencana

1. Latar Belakang
Bagian Selatan Kabupaten Pati memapar sebuah pegunungan, lebih dikenal sebagai Pegunungan Kendeng Utara. Pegunungan Kendeng Utara tersebut merupakan hamparan perbukitan batukapur yang telah mengalami proses-proses alamiah dalam batasan ruang dan waktu geologi. Produk dari dinamika bumi yang berlangsung dari masa lalu hingga saat ini telah menghasilkan suatu fenomena alam yang unik. Kita mengenalnya dengan istilah Bentang Alam Kars.

Fenomena bentang alam kars Kendeng Utara tercermin melalui banyaknya bukit-bukit kapur kerucut, munculnya mata air-mata air pada rekahan batuan, mengalirnya sungai-sungai bawah tanah dengan lorong gua sebagai koridornya. Tidak jarang juga sering ditemukan lahan yang sangat kering di permukaan saat musim kemarau pada bagian bagian bukit karena memang sungai-sungai yang mengalir di permukaan sangat jarang.

Kars pada umumnya membentuk bentang alam yang ditandai oleh terdapatnya dekokan (closed depressions) dengan berbagai ukuran dan susunan, pengasatan (drainage) permukaan yang terganggu, serta gua-gua dan sistem pengasatan  bawah tanah (Bambang Prastistho, 1995). Sedangkan menurut Esteban (1996) kars adalah suatu sistem kejadian eksodinamik yang melibatkan air, yang mengakibatkan struktur massa batuan mudah larut, berubah secara berkesinambungan. Karstifikasi terjadi pada tubuh batuan mulai dari permukaan, yakni bagian yang bersentuhan langsung dengan atmosfer, hingga kedalaman 200 - 250 meter (Milanovic, 1992). Proses ini pada kelanjutannya menghasilkan tata lingkungan yang secara umum kompleks dengan hidrogeologi dan geomorfologi unik. Selain karena pelarutan, bentang alam seperti kars dapat terjadi oleh proses pelapukan, hasil kerja hidrolik misalnya pengikisan, pergerakan tektonik, pencairan es dan evakuasi dari batuan beku (lava). Karena proses utama pembentukannya bukan pelarutan, maka bentang alam demikian disebut pseudokarst (Gillieson, 1996). Sementara itu kars yang terbentuk oleh pelarutan disebut truekarst.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Kars Sukolilo, menetapkan Kawasan Kars Kendeng Utara yang melingkupi Kabupaten Pati hingga Kabupaten Grobogan adalah sebagai kawasan kars tetapi kawasan ini belum ditetapkan  mengenai klasifikasi  wilayah kars berdasarkan peraturan pemerintah dalam ”Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1456 K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars”. Dalam pengelolaan sebuah kawasan kars harus melakukan sebuah pengkajian dan survey terlebih dahulu. Apabila dalam penetapannya sebuah kawasan kars memiliki kriteria sebagai kawasan kars kelas 1 (Pasal 12) maka perlindungan terhadap kawasan kars harus menjadi perhatian utama dalam menentukan keberlanjutan ekologi di dalamnya. Status ini menjadikan kawasan ini berisiko untuk dikelola secara tidak tepat asas. Pengelolaan kawasan kars yang tidak berorientasi pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan akan memunculkan risiko bencana terhadap aset-aset kehidupan dan penghidupan. Berkenaan dengan hal tersebut maka informasi tentang keberadaan dan nilai kawasan kars tersebut perlu digali dan diinformasikan ke pelbagai pihak sehingga dapat dilakukan kebijakan dan praktek pembangunan yang baik di kawasan.

2.  Fisiografi & Geomorfologi
Pulau Jawa Secara fisiografi dibagi menjadi empat bagian utama (Van Bemmelen, 1949) yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur serta Selat dan Pulau Madura. Daerah Jawa Tengah terbentuk oleh dua pegunungan, yaitu Pegunungan Serayu Utara dan Pegunungan Serayu Selatan. Pegunungan Serayu Utara berbatasan dengan Pegunungan Bogor di Jawa Barat dan Pegunungan Kendeng di Jawa Timur. Sedangkan Pegunungan Serayu Selatan merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Berdasarkan fisiografi tersebut maka kawasan kars Grobogan dan kawasan kars Sukolilo Pati terletak pada pegunungan Kendeng (antiklinorium Rembang - Madura).  Tepatnya pada Pegunungan Kendeng Utara yang merupakan lipatan perbukitan dengan sumbu membujur dari arah Barat - Timur dan sayap lipatan berarah Utara - Selatan.

Morfologi kawasan kars Kendeng Utara secara regional merupakan komplek perbukitan kars yang terletak pada struktur perbukitan lipatan. Setelah perlipatan mengalami proses pelarutan, pada bagian puncak perbukitan kars di permukaan (eksokars) ditemukan morfologi bukit-bukit kerucut (conical hills), cekungan-cekungan hasil pelarutan (dolina), lembah-lembah aliran sungai yang membentuk mulut gua (sinkhole), mata air dan telaga kars ditemukan pada bagian bawah. Morfologi bawah permukaan (endokars) kawasan kars tersebut terbentuk morfologi sistem perguan dan sungai bawah tanah. Pada bagian Utara dan Selatan batas akhir batuan kapur/batugamping merupakan dataran.

3. Geologi
Stratigrafi kawasan kars Kendeng Utara menurut Pringgoprawiro (1983) masuk ke dalam Formasi Wonocolo, Formasi Bulu, Formasi Ngrayong, Formasi Tawun dan Formasi Tuban. Formasi penyusun kawasan kars Kendeng Utara ini terbentuk pada masa Meosen Tengah - Meosen Atas, terbentuk 25 juta tahun yang lalu berdasarkan skala waktu geologi.  Formasi Wonocolo disusun oleh napal pasiran dan napal lempungan yang kaya akan foram plankton terdapat sisipan kalkarenit dengan tebal lapisan 5 - 20 cm. Penyebarannya relatif Barat - Timur, mulai dari Sukolilo (di Barat) - Sedan - Wonosari - Kedungwaru - Metes Banyuasin - Mantingan - Bulu, Antiklin Ledok, Antiklin Kawengan, lanjut ke arah Manjung - Tawun, Jojogan - Klumpit, menipis ke arah Tuban di Timur. Tebal satuan ini 89 m - 600 m, berumur Miosen Akhir bagian bawah hingga Miosen Akhir bagian tengah (N15 - N16). Diendapkan pada lingkungan laut terbuka (neritik luar) - batial atas. Hubungan dengan Formasi Ledok di atasnya adalah selaras. Di bawahnya diendapkan Formasi Bulu disusun oleh (litologi)  batu gamping masif yang mengandung koral, alga dan perlapisan batugamping yang juga mengandung foram laut berupa koral, orbitoid dan alga, sesekali diselangselingi oleh batupasir kuarsa bersifat karbonatan dan sisipan batulempung. Penyebarannya luas mulai dari Ngrejeg - Klumpit - Rengel hingga Purwodadi, dan menghilang di daerah Pati tertutup endapan alluvial. Ketebalan satuan ini 54 m - 248 m. Berdasarkan fosil kecil, umur Formasi Bulu adalah Miosen Akhir bagian bawah (N14 - N15). Diendapkan pada lingkungan neritik luar - batial atas. Hubungan dengan Formasi Wonocolo di atasnya adalah selaras. Pada bagian bawah Formasi Bulu ini terendapkan Formasi Ngrayong yang disusun oleh perselang-selingan batupasir kuarsa, batugamping pasiran dan batulempung. Pada batugamping pasiran disusun oleh alga dan cangkang binatang laut. Kemudian pada bagian lapisan formasi di bawahnya (lebih tua) adalah Formasi Tawun yang disusun oleh batulempung dengan sisipan batupasir kuarsa dan batupasir karbonatan, di beberapa tempat ditemui lapisan batulempung yang mengandung gipsum. Pada bagian terbawah diendapkan Formasi Tuban disusun oleh batulempung sisipan batugamping. Singkapan yang baik terdapat di K. Sirwula, Ds. Drajat dengan ketebalan 144 m - 665 m.

Struktur geologi yang berkembang di kawasan kars Kendeng Utara adalah struktur lipatan. Pada bagian Formasi Bulu yang menjadi kawasan kars merupakan bagian dari sinklin dengan arah sayap lipatan Utara - Selatan. Sumbu sinklin terdapat pada bagian puncak komplek perbukitan kars yang memanjang dari Beketel hingga wilayah Wirosari, perbatasan dengan Blora. Terdapat juga struktur patahan yang berarah relatif Timur Laut - Barat Daya. Struktur-struktur patahan tersebut terjadi akibat dari proses perlipatan Pegunungan Kendeng Utara ini. Kondisi struktur geologi demikian menyebabkan batugamping sebagai batuan dasar penyusun formasi kars Kendeng Utara memiliki banyak rekahan, baik yang berukuran minor maupun mayor. Rekahan-rekahan ini merupakan cikal bakal pembentukan dan perkembangan sistem perguaan di kawasan kars setelah mengalami proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi.


Peta Geologi Kendeng Utara
Gambar 1. Peta Geologi Kendeng Utara

4. Speleologi
Kawasan kars Grobogan merupakan kawasan kars yang berada di puncak ertinggi dari kawasan kars Perbukitan Kendeng Utara berada pada ketinggian 500 mdpl. Proses karstifikasi di kawasan kars Grobogan dan kawasan kars Sukolilo telah terjadi dari saat Perbukitan Kendeng Utara yang disusun oleh batugamping sebagai batuan dasarnya tersingkap. Kemudian proses pelarutan terjadi hingga saat ini. Bukti bahwa kawasan kars ini masih berlangsung dapat dilihat dari banyaknya sistem-sistem gua dan sungai bawah tanah yang masih aktif. Perkembangan dari proses tersebut telah menghasilkan lorong-lorong gua baik horizontal maupun vertikal.

Mulut-mulut gua di kawasan ini tersingkap dengan 2 tipe, yaitu tipe runtuhan dan pelarutan dari permukaan. Tipe runtuhan umumnya membentuk mulut gua vertikal, contohnya Gua Kembang Dusun Wates, Gua Lowo Misik, Gua Kalisampang, Gua Tangis, Gua Telo, Gua Ngancar, dan Sumur Jolot Dusun Kancil, Desa Sumber Mulyo, Pati. Tipe ini memiliki karakter banyak terdapat bongkahan batuan yang runtuh dari atap lorong, hal ini merupakan bukti bahwa sistem gua ini terbentuk pada jalur rekahan yang relatif lemah sehingga batuan dasarnya labil dan mudah lepas. Disamping itu juga akan ditemukan lorong-lorong yang berkelok-kelok seperti retakan batuan. Bukti lain kalau kontrol struktur mempengaruhi pembentukan gua dapat dilihat pada penjajaran ornamen gua di atap-atap yang terbentuk dari hasil pengendapan karbonat hasil pelarutan.

Selain kontrol struktur yang dominan di kawasan kars Kendeng Utara dalam pembentukan sistem perguaannya, proses pelarutan yang berasal dari air permukaan juga terdapat di kawasan ini. Dapat dijumpai di beberapa gua yang mulutnya terdapat di dasar-dasar lembah, seperti pada Gua Urang Dsn Guwo, Kemadoh Batur, Grobogan. Gua Bandung, Gua Serut, Gua Gondang dan Gua Banyu Desa Sukililo dan Gua Wareh Desa Kedungmulyo, Kecamatan Sukolilo serta Gua Pancur di Kecamatan Kayen, Pati. Pada musim hujan mulut-mulut gua tersebut merupakan jalur sungai periodik yang masuk ke dalam gua dan juga sebagai sungai utama yang keluar dari dalam gua. Pada umumnya gua-gua horizontal di kawasan ini berkembang mengikuti pola perlapisan batuan dasarnya dengan kemiringan lapisan ke arah Utara sehingga akumulasi sungai-sungai permukaan akan terpusat pada daerah-daerah bawah yang keluar melalui mata air ataupun mulut-mulut gua.


Sistem Gua Urang dan Jemblong Kembang
Gambar 2. Sistem Gua Urang dan Jemblong Kembang, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan

Keterdapatan gua-gua di kawasan kars Kendeng Utara tersebar dari Barat sampai ke Timur, penjajaran gua-gua mengikuti pola-pola patahan, rekahan, dan pola perlapisan. Pola perkembangan lorong-lorong gua dikontrol oleh adanya struktur geologi yang ditunjukkan dengan kenampakan lorong memanjang terbentuk akibat pelarutan melalui rekahan-rekahan dan bidang-bidang patahan serta perkembangan dari pelarutan pada bidang-bidang perlapisan batuan yang terpengaruh oleh adanya rekahan-rekahan yang mengikuti pola perlapisan batuan.

Peta Sistem Gua

Gambar 3. Peta Sistem Gua Urang dan Jemblong Kembang, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan

5. Hidrologi Kars
Pola hidrologi kawasan kars Kendeng Utara secara regional adalah pola aliran  paralel dimana terdapat penjajaran mata air dan mengikuti struktur geologi yang ada. Pola aliran seperti ini merupakan cerminan bahwa pola aliran sungai di kawasan kars Sukolilo Pati dan kawasan kars Grobogan dipengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang. Sungai-sungai yang mengalir dibagi menjadi dua zona, yaitu zona aliran Utara dan zona aliran Selatan. Baik zona Utara maupun Selatan adalah sungai-sungai yang muncul dari rekahan batugamping kawasan tersebut atau karst spring dengan tipe mata air kars rekahan (fracture springs). Terbentuknya mata air rekahan tersebut akibat terjadinya patahan pada blok batugamping di kawasan ini saat proses pengangkatan dan perlipatan.

Zona ditemukannya penjajaran mata air tersebut merupakan batas zona jenuh. Pada zona Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran dengan kisaran ketinggian 20 - 100 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada ketinggian antara 100 - 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada daerah Sukolilo. Bukti ini dapat dilihat dari sungai bawah tanah yang terdapat di Gua Wareh, Gua Gondang, Gua Banyu dan Gua Pancuran. Keempat gua tersebut merupakan sistem perguaan sekaligus sistem sungai bawah tanah yang masih aktif. Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa perbukitan kawasan kars Kendeng Utara berfungsi sebagai kawasan resapan air (recharge area), kemudian air resapan tersebut terdistribusi keluar melalui mata air-mata air  yang bermunculan di bagian pemukiman dan di daerah-daerah dataran sekitar kawasan kars Pati dan Grobogan.

Dalam kawasan kars Kendeng Utara ini terdapat 33 sumber mata air yang mengelilingi kawasan kars Grobogan dan 79 sumber mata air yang mengelilingi kawasan kars Sukolilo Pati (Kendeng Utara). Keseluruhan mata air tersebut bersifat parenial artinya terus mengalir dalam debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa pemunculan air di sepanjang musim selalu berubah. Pada musim kemarau berdasarkan perhitungan dari 38 sumber air yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1.009 lt/dtk, dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 7.882 KK yang ada di Kecamatan Sukolilo, dari 18 sumber air yang ada di Kecamatan Tawangharjo mencapai debit 462,796 lt/dtk dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 5.000 KK yang ada di Kecamatan Tawangharjo dan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Perhitungan ini akan lebih meningkat drastis pada saat musim hujan.


Peta Sebaran Gua dan Sumber Air

Gambar 4. Peta Penyebaran Gua dan Sumber Air di Kawasan Kars
Kendeng Utara

6. Fungsi Kawasan
Kawasan kars Sukolilo memiliki fungsi utama sebagai fungsi hidrologis, yang berguna bagi kelangsungan sistem ekosistem yang ada di kawasan kars. Banyaknya outlet-outlet mata air yang keluar menunjukkan bahwa kawasan kars Sukolilo merupakan kawasan kars aktif yang telah dan sedang mengalami proses karstifikasi. Keberadaan air yang melewati sungai-sungai bawah permukaan dan sumber-sumber air sangat memberikan peranan penting terhadap setiap aset-aset kehidupan dan penghidupan yang ada di kawasan kars baik oleh biota-biota yang ada di dalam gua, flora dan fauna yang ada di permukaan dan manusia sebagai komponen utama yang berperan penting dalam suatu ekosistem. Perbukitan batugamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan kars.

Fisik dan struktur geologi perbukitan ini, dengan sempurna telah menyimpan dan memelihara air dalam jumlah dan masa tinggal yang ideal. Sehingga dapat mencukupi kebutuhan air bagi warga setempat di musim kemarau sampai datangnya musim hujan berikutnya. “Kemampuan bukit kars dan mintakat epikars pada umumnya telah mampu menyimpan tiga hingga empat bulan setelah berakhirnya musim penghujan, sehingga sebagian besar sungai bawah tanah dan mata air mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang baik” (Haryono, Eko, 2001).

Mata air epikars, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam hal:
  1. Kualitas air. Air yang keluar dari mata air epikars sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan.
  2. Debit yang stabil. Mata air yang keluar dari mintakat epikars dapat mengalir setelah 2 - 3 bulan setelah musim hujan dengan debit relatif stabil.
  3. Mudah untuk dikelola. Mata air epikars umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan, sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa.
Kawasan kars ini menjadi sebuah tandon air alam raksasa bagi semua mata air yang terletak di kedua kabupaten tersebut. Akifer yang unik menyebabkan sumberdaya air di kawasan kars terdapat sebagai sungai bawah permukaan, mata air, danau dolin/telaga, dan muara sungai bawah tanah (resurgence). Kawasan kars disinyalir merupakan akifer yang berfungsi sebagai tandon terbesar keempat setelah dataran alluvial, volkan dan pantai.


Sumber Lawang
Gambar 5. Sumber Lawang Sebagai Mata Air Terbesar yang Ada
di Kawasan Kars Kendeng Utara

Selain potensi sumberdaya air, sebagian gua di kawasan kars Kendeng Utara merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular. “Kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar 17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama” kata Sigit Wiantoro (Peneliti Kelelawar dari LIPI, dalam Wijanarko 2008).

7. Pemanfaatan Sumberdaya Air
Hampir seluruh masyarakat di kawasan kars Kendeng Utara meliputi Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Kabupaten Pati dan  Kecamatan Brati, Tawangharjo, Tanggungharjo, Wirosari, Ngaringan, Kedungjati, Grobogan, Kradenan, dan Pulokulon, Kabupaten Grobogan memanfaatkan sumber-sumber air yang berasal dari kawasan kars Sukolilo dan kars Grobogan, karena 90% suplai air berasal dari kawasan kars Kendeng Utara. Hampir setiap dusun yang berada di Desa Sukolilo (19 mata air), Desa Gadudero (3 mata air), Desa Tompe Gunung (21 mata air), Desa Kayen (4 mata air), Desa Kudumulyo (1 mata air), Desa Mlawat (1 mata air), Desa Baleadi (3 mata air), Desa Sumbersuko (24 mata air) yang ada di Kecamatan Sukolilo memiliki sumber-sumber mata air yang memiliki debit aliran bervariasi dari 1 liter/detik hingga 178,90 liter/detik dan yang berada di Desa Dokoro (12 mata air), Desa Kemadoh Batur (15 mata air), Kabupaten Grobogan memiliki sumber air dengan debit 6 liter/detik hingga 64 liter/detik. Sumber air yang terbesar adalah Sumber lawang yang terletak di Dusun Tengahan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo dengan debit aliran di musim kemarau 178,90 liter/detik. Sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air lebih dari 2.000 KK di Kecamatan Sukolilo, karena sumber ini merupakan sumber utama yang aliran permukaannya bergabung dengan beberapa sumber air yang ada di sekitarnya sehingga menjadi sungai permukaan yang memiliki aliran terbesar dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, MCK, ternak, kebutuhan dasar sehari-hari dan sebagai saluran irigasi untuk lebih dari 4.000 hektar areal persawahan di Desa Sukolilo. Selain itu juga Sumber Lawang juga telah dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di Dusun Tengahan.

Dari beberapa mata air yang ada di Kecamatan Sukolilo, debit aliran terkecil yaitu 0,06 liter/detik yaitu Sumber Ngowak di Dusun Tompe Gunung, Desa Tompe Gunung, Kecamatan Sukolilo. Debit ini belum termasuk dengan aliran pipa yang sudah dimanfaatkan pada sumber ini. Dari sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air bagi 40 KK yang ada di sekitar Dusun Tompe Gunung. Setiap sumber air yang ada di kawasan kars Sukolilo mampu memenuhi rata-rata kebutuhan air masyarakat lebih dari 200 KK di setiap dusun atau desa. Pemanfaatan air per hari untuk 1 orang sekitar 15 - 20 liter, dapat dihitung jika 1 KK memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari bisa mencapai 100 liter. Hal ini dapat menunjukkan bahwa sumberdaya air yang ada di kawasan kars Sukolilo melebihi kapasitas kebutuhan air masyarakat, dan yang lainnya juga dimanfaatkan sebagian besar untuk lahan-lahan pertanian dan peternakan.

8. Bahaya dan Risiko Bencana
Ancaman kekeringan di kawasan kars sering terjadi setiap tahunnya terutama pada daerah Grobogan yang meliputi 9 Kecamatan: Kecamatan Brati, Tawangharjo, Tanggungharjo, Wirosari, Ngaringan, Kedungjati, Grobogan, Kradenan, dan Pulokulon. Hal ini diakibatkan oleh sifat-sifat fisik kawasan batugamping dimana air lebih cenderung masuk ke bawah permukaan melalui gua-gua, lubang-lubang vertikal (sinkhole) dan sungai-sungai bawah permukaan, sehingga masyarakat memanfaatkan sumber-sumber air yang ada untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesalahan pengelolaan kawasan dapat berdampak pada terganggunya sistem hidrologi. Hal ini dapat berdampak pada terjadinya bencana kekeringan dan bencana ekologis lainnya.

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat  yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor  manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU No 24 tentang Penanggulangan Bencana, pasal 1, ayat 1). Bencana (disaster) merupakan fenomena sosial akibat kolektif atas komponen ancaman (hazard) yang berupa fenomena alam dan atau buatan di satu pihak, dengan  kerentanan (vulnerability) komunitas di pihak lain. Bencana terjadi apabila komunitas mempunyai tingkat kemampuan yang lebih rendah dibanding dengan tingkat ancaman yang mungkin terjadi padanya. Ancaman  menjadi bencana apabila komunitas rentan, atau memiliki kapasitas lebih rendah dari tingkat bahaya tersebut. Setiap individu, komunitas maupun unit sosial yang lebih besar mengembangkan kapasitas sistem penyesuaian dalam merespon ancaman (Paripurno, 2002).  Respon itu bersifat jangka pendek yang disebut mekanisme penyesuaian (coping mechanism) atau yang lebih jangka panjang yang dikenal sebagai mekanisme adaptasi (adaptatif mechanism). Mekanisme dalam menghadapi perubahan dalam jangka pendek terutama bertujuan untuk mengakses kebutuhan hidup dasar: keamanan, sandang, pangan, sedangkan jangka panjang bertujuan untuk memperkuat sumber-sumber kehidupannya (Paripurno, 2002).

Ancaman kekeringan merupakan siklus tahunan bagi beberapa wilayah yang ada di kawasan kars Kendeng Utara terutama di kawasan kars Grobogan sebagai kawasan tertinggi yang ada di wilayah ini. Pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko bencana dapat memberikan input positif kepada keberlanjutan kawasan kars sehingga dapat mengurangi risiko terhadap aset-aset yang ada, bila pembangunan tidak dalam perspektif risiko bencana akan memberikan input yang negatif yang dapat mengakibatkan terancamnya keberlanjutan suatu kawasan baik secara ekologis maupun secara fisik terutama pada aset-aset kehidupan yang ada di kawasan kars seperti sumber-sumber mata air yang ada, hal ini dapat mengancam lebih dari 13.000 KK dan lebih dari 4.000 hektar lahan pertanian dan perkebunan yang memanfaatkan sumber-sumber mata air yang ada sehingga dapat berisiko tinggi bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan dalam jangka waktu yang panjang dan dapat menimbulkan terjadinya bencana. 

9. Pengelolaan Kawasan
Pengelolaan lingkungan terhadap risiko bencana  berhubungan dengan pengelolaan partisipatif atas semua aset-aset kehidupan dan penghidupan di kawasan kars, antara lain (1) Aset alam: sumberdaya alam, air, lahan, dan lingkungan; (2) Aset fisik: infrastruktur, jalan, sarana dan prasarana dan sebagainya; (3) Aset ekonomi: pertanian, peternakan, harta benda; (4) Aset manusia: pola pikir, sumberdaya manusia, pengetahuan dan sebagainya; (5) Aset sosial-budaya: tatanan sosial, kearifan lingkungan, budaya dan tradisi, kepercayaan, gotong royong dan kelembagaan lokal. Dalam pengelolaan kawasan kars harus diperhatikan secara utuh untuk menjaga sistem yang ada di permukaan ataupun yang ada di bawah permukaan. Untuk menjaga aset-aset yang ada di kawasan kars harus dilakukan perlindungan kawasan terhadap sistem hidrologis yang ada, sebagai pengontrol, menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan proses karstifikasi kawasan kars. Keberlanjutan kawasan kars merupakan titipan bagi anak cucu di masa yang akan datang untuk itu perlu adanya kekuatan hukum yang dapat mengatur dan melindungi kawasan kars.

Pengelolaan kawasan kars harus diimplementasikan oleh setiap pihak terutama pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di kawasan secara partisipatif. Peningkatan populasi di masa yang akan datang akan memberikan tekanan-tekanan pada ekosistem kawasan kars dan akan berdampak pada degradasi lingkungan. Strategi pengelolaan kawasan kars pada dasarnya merupakan upaya-upaya pelestarian terhadap fungsi-fungsi ekosistem dalam lingkungan kars dan pengendalian fungsi ekologis yang dapat mendorong suatu keseimbangan, keserasian dan keberlanjutan kawasan dengan melibatkan semua pihak.

Keterpaduan antar wilayah-wilayah yang berada di kawasan kars Kendeng Utara meliputi Kabupaten Grobogan, Kabupaten Pati, Kabupaten Blora untuk mencapai tujuan yang sama dalam mengurangi kerentanan-kerentanan yang dapat menimbulkan risiko bencana. Pengelolaan lingkungan harus bersifat holistik yang mencakup aspek-aspek biotik, abiotik, ekonomi dan sosial-budaya. Perencanaan tata ruang harus mampu mengoptimalkan potensi kawasan kars sehingga dapat mengakomodasikan dinamika pembangunan yang berkelanjutan dan berperspektif pada pengurangan risiko bencana. Peran strategis dalam pengelolaan kawasan kars berbasis masyarakat dengan menjadikan masyarakat yang berada di kawasan ini sebagai aktor utama yang memegang peranan besar terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga perlindungan hukum suatu kawasan dapat menjadi jaminan bagi suatu kawasan yang dapat menguntungkan semua pihak.

10. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian dapat ditarik kesimpulan :
  1. Wilayah perbukitan pada kawasan Kendeng Utara merupakan kawasan kars dengan proses karstifikasi aktif.
  2. Geomorfolgi kawasan kars Kendeng Utara adalah Perbukitan Kars Struktural dengan morfologi permukaan (eksokars) berupa bukit kerucut yang menjajar (conical hills), tebing patahan yang memanjang, lembah-lembah hasil pelarutan (dolina) dan mata air kars (karst spring). Morfologi bawah permukaan (endokars) ditemukan sistem perguaan struktural dan sungai bawah tanah yang berkembang mengikuti pola rekahan
  3. Mata air dan sistem sungai bawah tanah di kawasan kars Sukolilo dan Grobogan (Kendeng Utara) bersifat parennial (mengalir sepanjang musim).
  4. Perbukitan kawasan kars Kendeng Utara berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air untuk mata air-mata air yang mengalir di pemukiman, baik di bagian Utara maupun bagian Selatan kawasan ini.
  5. Lebih dari 8.000 KK di seputar kawasan Pati khususnya Kecamatan Sukolilo dan 5.000 KK di seputaran kawasan Grobogan khususnya Kecamatan Tawangharjo dan Wirosari sangat bergantung pada mata air-mata air dan sungai-sungai bawah tanah yang keluar melalui gua-gua yang terdapat di kawasan kars Kendeng Utara sebagai sumber penghidupan mereka.
  6. Banyaknya sumber-sumber air yang keluar melalui rekahan batuan dan sungai bawah permukaan sangat berperan penting untuk kesuburan tanah dan produktivitas lahan-lahan pertanian yang ada di bagian bawah atau dataran dan lahan-lahan perkebunan serta hutan yang ada di bagian-bagian atas sebagai sumber aset kehidupan dan penghidupan masyarakat.
  7. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya air di kawasan kars Sukolilo masih menggunakan metode konvensional, namun pemanfaatanya mampu mencukupi kebutuhan dasar akan air bersih kawasan tersebut.
  8. Fungsi hidrologi di kawasan kars Kendeng Utara merupakan pengontrol utama sistem ekologi yang meliputi hubungan antara komponen-komponen abiotik (tanah, batuan, sungai, air dll), biotik (biota-biota gua serta flora dan fauna yang ada di kawasan kars), dan culture (lingkungan sosial, masyarakat, kebudayaan dan adat istiadat) yang berinteraksi antara satu dengan yang lainnya membentuk suatu ekosistem dimana kars sebagai kontrol utamanya.
11. Rekomendasi
  1. Berdasarkan hasil kajian dari fakta-fakta lapangan mengenai potensi dan kerberlangsungan fungsi utama kawasan, maka kawasan kars Pati – kawasan kars Grobogan  masih berlangsung proses karstifikasi dan masuk dalam klasifikasi Kawasan Kars Kelas 1 menurut Kepmen ESDM No. 1456/K/20/MEM/2000 pasal 12.
  2. Pemerintahan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati perlu menetapkan klasifikasi mengingat fungsi perbukitan kars tersebut adalah daerah resapan dan penyimpan air untuk mata air yang muncul di seluruh permukiman di kawasan Kars Grobogan dan Sukolilo. Sesuai dengan KEPMEN ESDM No. 1456/K/20/MEM/2000 , BAB VI mengenai PEMANFAATAN DAN PERLINDUNGAN KAWASAN KARS, Pasal 14: (1) Di dalam Kawasan Kars Kelas I tidak boleh ada kegiatan pertambangan. (2) Di dalam Kawasan Kars Kelas I dapat dilakukan kegiatan lain, asal tidak berpotensi mengganggu proses karstifikasi, merusak bentuk-bentuk kars di bawah dan di atas permukaan, serta merusak fungsi kawasan kars.
  3. Kawasan kars Sukolilo dapat dikembangkan menjadi aset wisata alam dengan konsep ekowisata yang bersifat konservatif.
  4. Perlu dilakukan eksplorasi bawah pemukaan untuk memetakan sistem-sistem perguaan dan sistem-sistem sungai bawah permukaan di kawasan kars Sukolilo seperti yang sudah dilakukan di kawasan kars Grobogan untuk menemukan hubungan sistem-sistem utama kawasan kars Kendeng Utara.
  5. Perlu adanya penelitian tentang keanekaragaman hayati yang ada di kawasan kars Kendeng Utara.
Referensi
          Anonim, 2008, Laporan Pengkajian Partisipatif Dinamika Masyarakat Pengguna Air Kars, Kars Kendeng Utara, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta.
          Anonim, 2008, Laporan Hidrologi Kars dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Kawasan Sukolilo, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng dan Paguyuban Kadang Sikep.
          Anonim, 2008, Laporan Ekspedisi Kars  Sukolilo: Pemetaan Gua dan Sistem Hidrologi Bawah Permukaan, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta.
          Anonim, 2007, Laporan Survey Speleologi, Hidrologi Kars dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Kecamatan Tawangharjo dan Kecamatan Wirosari, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta.
          Anonim, 2007, Pengelolaan Ekosistem Kars Gunung Sewu, Makalah dalam Lokakarya Pengelolaan Ekosistem Kars Gunung Sewu. Kementrian Negara Lingkungan Hidup.
          Anonim, 2006, Laporan Ekspedisi Grobogan: Pemetaan Gua dan Sistem Hidrologi Bawah Permukaan, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta & Masyarakat Peduli Kars Grobogan.
          Anonim, 2001, Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar Tambakromo dan Sukolilo Skala 1 : 25.000, Bakosurtanal 2001.
           Anonim, Citra Satelit Jawa Tengah.
          Anonim, 2000, Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1456 K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars.
        Acintyacunyata Speleological Club (ASC), 1989, Gua, Air dan Permasalahannya, ASC, DI  Yogyakarta.
          Acintyacunyata Speleological Club, 1995, Acintyacunyata Speleological Club News, Edisi Khusus Lima Puluh Tahun Indonesia Merdeka, ASC, DI Yogyakarta.
          Acintyacunyata Speleological Club, 2005, Buku Pendidikan dan Pelatihan Speleology Dasar, ASC, Yogyakarta.
          Bemmelen, RWV, 1970, The Geology of Indonesia, Vol IA General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes, Second Edition, Martinus Nilhoff, The Haque, Netherlands.
          Bougli, A, 1980, Karst Hidrology and Physical Speleology, Springer – Verlag, Berlin Heidelberg, New York.
          Davis, Jan, and Lambert, Robert, 2003, Engineering In Emergencies, Chapter 4: Assessment and Planning, IT Publication Ltd., London.
          Hermawan, Yandi, 1989, Hidrologi Untuk Insiyur, Penerbit Erlangga, Jakarta, Indonesia.
          Hirnawan, Febri, 2007, Riset Bergulirlah Proses Ilmiah, Unpad Press, Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
          Haryono, 2001, Nilai Hidrologis Bukit Kars, Makalah dalam Seminar Nasional Eko Hidrolik, Teknik Sipil Universitas Gadjahmada.
          Jonkowski. Jerzy, 2001, Geol 9111 Groundwater Environments, UNSW Groundwater Centre, University of New South Wales, New South Wales.
          Kusumaningrat, Hikmat, dan Kusumaningrat, Purnama, 2007, Jurnalistik Teori dan Praktek, Remaja Rosdakarya, Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
          Kadar, D, Sudijono, 1994, Geologi Lembar Rembang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
          Mandel, S, 1981, Groundwater Resources: Investigation and Development, Academic Press, New York.
          Moore, GW, and Nicholas, G,1978, Speleology, The Study of Caves, Zephyrus Press. Inc., USA.
          Poulson, TL, and White, WB, 1969, The Cave Environment, Science Volume 165.
          Paripurno, 2002, Community Based Disaster Management in The Merapi Prone Area: A Realistic Demand? Proceeding of Symposium on Natural Resources and Environment Management, UPN "Veteran" Yogyakarta.
          Paripurno dkk, 2008, Kajian Potensi  Kars Kawasan Sukolilo – Pati, Jawa Tengah, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng dan Paguyuban Kadang Sikep.
          Rahardjo, W, Sukandarrumidi, Rosidi, HMD, 1995, Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa.
          Uhlig, H, 1980, Man and Tropical Karst in Southeast Asia, Geo-ecological differentiation, Land use and Rural Development Potential in Indonesia and Other Regions, Geo-Jurnal, Wiesbaden, Germany.
          Wijanarko, 2007, Selamatkan Kars Grobogan dan Pati Jawa Tengah, Artikel dalam Kompas Rabu, 23 April 2008.































FISIOGRAFI PULAU SUMATRA
Pulau Sumatra luasnya ±435.000 km2 hampir sama dengan luas negara Inggris. Sumatra mempunyai bentuk memanjang, dari Kota Raja di bagian utara sampai Tanjung Cina di bagian selatan sepanjang 1650 km dan sepanjang pantai banyak teluk-teluknya. Pantai barat melengkung, sebarannya di Teluk Tapanuli, sedangakan di pantai timur sungai-sungainya besar dan melebar, sehingga membentuk estuarium yang dangkal pada muaranya. Pada ujung selatan pulau ini terdapat 2 teluk penting yang menjorok ke daratan ±50 km. Teluk- teluk tersebut meliputi Teluk Lampung (dengan Teluk Betung) dan pelabuhan timur “EAS HARBOUR” dan Teluk Semangko (dengan Kota Agung).

Gambaran secara umum keadaan fisiografi pulau itu agak sederhana. Fisiografinya dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di sepanjang sisi baratnya, yang memisahkan pantai barat dan pantai timur. Lerengnya mengarah ke Samudera Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini mengakibatkan jalur pantai barat kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua ambang dataran rendah di Sumatera Utara (Melaboh dan Singkel/Singkil) yang lebarnya ±20 km. Sisi timur dari pantai Sumatra ini terdiri dari lapisan tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa tanah rendah aluvial.

Jalur rendah terdapat di bagian timur. Pada bagian ini banyak mengandung biji intan tersebar di Aceh yang lebarnya 30 km. Semakin ke arah selatan semakin melebar dan bertambah hingga 150-200 km yang terdapat di Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan.
1. Rangkaian Bukit Barisan.
Elemen orografis yang utama adalah Bukit Barisan yang panjangnya 1650 km dan lebarnya ±100 km (puncak tertingginya ialah Gunung Kerinci dan Gunung Indrapura 3800 m). Bukit Barisan merupakan rangkaian sejumlah pegunungan yang sejajar atau colisses yang setelah cabang lainnya ke luar dari arah pokok barat laut tenggara, dikatakan bahwa arahnya lebih ke arah timur barat dan merosot (menurun) ke arah tanah rendah di bagian timur. Di antara Sungai Wampu dan Barumun merupakan Pegunungan Barisan yang bercorak empat persegi panjang (sumbu barat laut tenggara 275 km panjangnya dan 150 km lebarnya). Puncak ini disebut Batak Tumor. Pada bagian puncak yang mempunyai ketinggian 2000 m (sibutan 2457 m) terdapat kawah besar Toba yang panjangnya 31 km, serta luasnya 2269 km2, sedangkan Danau Toba panjangnya 87 km dan luasnya 1776,5 km2 (termasuk Pulau Samosir).
Sistem Barisan di Sumatra Tengah terdiri dari beberapa pegunungan blok. Bagian yang paling sempit pada peralihan Batak Tumor (75 m) yang kemudian melebar menjadi 175 m pada irisan penampang bukit Padang. Perbukitan yang tertinggi terletak di bagian barat daya dengan ketinggian lebih dari 2000 m, kemudian berangsur-angsur semakin rendah ke arah dataran rendah Sumatra Timur (Lisun-Kuantan-Lalo 1000 m dan Suligi Lipat Kain ketinggiannya lebih dari 500 m).
TOBLER (1971) membedakan elemen-elemen tektonis dan morfologi Sumatra sebagai berikut:
a. Dataran alluvial terbentang di pantai timur.
b. Tanah endapan/ Foreland tersier (peneplain) dengan Pegunungan Tiga Puluh
c. Depresi sub Barisan
d. Barisan depan / fore barisandengan masa lipatan berlebihan (over thrust masses)
e. Scheifer Barisan dengan lipatan yang hebat dan batuan metamorf.
f. Barisan tinggi/ High Barisan dengan vulkan- vulkan muda.
g. Dataran alluvial terbentang di pantai barat.
Berdasarkan kajian perkembangan geologi, Pulau Sumatra dibedakan menjadi: Basin Tersier di Sumatra Timur (a-c) disebut zone I, rangkaian pegunungan berbongkah di sebelah utara Umbilin disebut zone II, Fore barisan merupakan zone III, The Schiefer Barisan (e) tergolong zone IV kecuali zone Schiefer Barisan di sebelah utara Padang, dan High Barisan (f) termasuk zone V. Zone II dan III termasuk unsur luar terletak di sisi timur dari Bukit Barisan. Lengkung geantiklin di Bukit Barisan terangkat pada zaman Pleistosen merupakan zone IV dan V.

Elemen-elemen tektonis dan morfologi Sumatra (Verstappen)
 Dataran pantai barat (pantai abrasi), merupakan daerah
yang sempit, bahaya terkena erosi dan abrasi, pantainya berpasir dan tidak cocok untuk dijadikan sebagai permukiman.
Landas Bengkulu. Merupakan kawasan lahan rusak di sebelah barat bukit barisan dan banyak tererosi, serta memiliki lereng yang terjal.
 Deretan pegunungan vulkan muda. Daerahnya sempit dan
erosinya tinggi.
 Depresi sub barisan (lembah bongkah semangka). Tidak cocok
sebagi tempat hidup karena sangat sempit.
 Daerah Basalt Sukadana Lampung.
Irigasnya sangat sulit karena tidak terdapat simpanan air.
 Landaian
sebelah timur. Cocok bila dijadikan sebagai tempat hidup karena tanahnya datar. Dimanfaatkan sebagai daerah transmigrasi. Daerah ini berkembang menjadi daerah transmigrasi terluas di Sumatera.
 Dataran aluvial pantai timur. Merupakan
daerah Rawa Payau.
2. Zone Semangka
Zone ini merupakan suatu corak permukaan yang mencerminkan karakteristik dari Geantiklin Barisan sepanjang pulau itu secara keseluruhan, yang dinamakan jalur depresi- menengah pada puncak yang disebut Semangko Rift Zone. Zone Semangko ini terbentang mulai dari teluk semangko di Sumatera Selatan dan berkembang lebih jauh ke arah Trog lembah Aceh dengan Kota Raja sebagai ujung utaranya. Di beberapa jalur ini terisi dan tertutup oleh vulkan-vulkan muda.
3. Arah Struktur Pokok
Secara umum arah struktur pokok dari Pulau Sumatra adalah:
 Sisi barat Geantiklin Barisan
terbentang di sebelah barat jalur Semangko berada pada setengah Pulau Sumatera di sebelah selatan Padang tepatnya. Sisi baratnya terbentuk oleh blok kerang yang panjang dan miring ke Samudera Hindia, dan disebut Block Bengkulu.
Gawir sesar sepanjang jalur semangko memisahkan pantai barat dan timur. Disebut juga Bukit Barisan Sensu stricto atau barisan tinggi.
 Ujung selatan bukit
barisan adalah daerah Lampung.
 Di antara Padang dan Padang Sidempuan
struktur geantiklinal Bukit Barisan tidak menentu. Geantiklinal block pegunungan yang memanjang di sisi timur, sama dengan daerah di sisi barat sungai subsekuen dan cabang-cabangnya.
 Batak Tumor yang merupakan lanjutan dari Bukit
Barisan yang berupa kubah geantiklinal besar yang terpotong oleh jalur Semangko.
 Bukit Barisan di daerah Aceh adalah bagian teruwet pecah menjadi
sejumlah pegunungan Block, yaitublock leuser dan pegunungan barat. Kedudukannya searah sisi barat seperti Block Bengkulu.
 Di sebelah barat bukit Barisan
terbentang palung antara sistem pegunungan Sunda yang membentuk cekungan laut antara Sumatera dan rangkaian pulau-pulau di baratnya. 
OLEH WENSESLAUS WEDON NUHAN


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar